Posted by: aroe | March 6, 2009

Jakarta Oh Jakarta

24 Purnama sudah waktu berlalu sejak, kulangkahkan kaki tinggalkan tempat kelahiranku. Waktu berjalan, mahkota bunga berganti, namun wajah mu tetaplah sama, tak ubahnya seperti dulu…

Photobucket

Posted by: aroe | March 6, 2009

Isolasi

sendiri, menjauh dan pergi…

Photobucket

Posted by: aroe | February 10, 2009

MEMORI

Tak terasa hidup terus berjalan, waktu terus bergulir, dan kaki terus melangkah. Setiap langkah menimbulkan jejak, setiap goresan menimbulkan bekas, setiap persinggahan meninggalkan kenangan. Kenangan yang terus membekas baik yang buruk maupun yang baik. Yang indah atau yang buruk, semua membekas dan memiliki memori.

langit biruuu.....

Namun, layaknya sang langit yang tetap biru, manusia hanyalah manusia. Tempat bernanungnya salah, lupa dan khilaf. Tak akan ada yang sempurna. Manusia hanyalah manusia. Layaknya langit yang akan tetap biru walau senja menjelang. Tetap biru walau mendung menghadang.

Begitupun hidup terus berwarna dan penuh permainan warna, layaknya mentari senja yang menyapa perbukitan di sekitarku.

Photobucket

Sebuah permainan warna, itulah hidup. Penuh rintangan dan cobaan, ujian dan hinaan, senang dan duka, lara dan nestapa. Semua bergulir layaknya roda. Semua bermain, bercampur baur, teraduk menjadi satu, permainan warna.

Memori kadang hitam kadang putih, selalu membekas. Langkah terus berjalan, roda terus berputar.

Posted by: aroe | February 10, 2009

Sendiri

Kita mulai dari mana ya? Hmm, mengutip sebuah kata2 yang sering saya gunakan dahulu, “Sendiri Itu Indah”. Bukan sebuah penegasan bahwa saat ini sedang sendiri, bukan pula sebuah pengasihani diri sendiri, atau membesarkan hati, cuma sekedar sebuah bahasan gak guna.

Sendiri Itu Indah, yang memang terkadang sebuah kesendirian bisa membuat hidup menjadi lebih indah. Memaknai arti hadir diri sendiri, Menyelami samudera hati sendiri, ya memang semua itu menghadirkan sebuah keindahan tersendiri.

Namun kadang terbesit sebuah pertanyaan menggelitik, mungkin cukup menggelitik. Benarkah sendiri itu indah? Benarkah?

Ya, hingga saat ini saya pun belum bisa menjawab pertanyaan konyol itu, walau itu adalah pertanyaan diri saya sendiri.

Sendiri Itu Indah, namun Berdua Lebih Indah. Benarkah?
Atau memang Sendiri Itu Indah?
Photobucket

Posted by: aroe | October 20, 2008

21 Tahun, tapi ????

Ya, tepat tanggal 19 Oktober tahun ini adalah 21 Tahun. 21 tahun apanya? Tentunya bukanlah hari ulang tahun saya, atau hal yang berkaitan dengan saya, atau bahkan sebuah kenangan yang membahagiakan, untuk saya. 19 Oktober nanti adalah tepat 21 Tahun Tragedi Bintaro. Pernah dengar tentang Tragedi Bintaro? Mungkin sebagian ada yang tahu namun samar, sebagian ada yang tidak tahu sama sekali. Intinya, Tragedi Bintaro adalah salah satu dari beberapa kecelakaan Kereta Api yang ada di Indonesia. Kenapa kok sepertinya Tragedi Bintaro ini sangat besar, bahkan sempat dilukiskan oleh Virgiawan Listanto dalam sebuah lagunya berikut ini (hanya beberapa bait):

Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi

Di gerbongmu ratusan orang yang mati

Hancurkan mimpi bawa kisah

Air mata, air mata

…..

Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja

Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan

Lalu terangkat semua beban di pundak

Semudah itukah luka-luka terobati

…..

Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah

Meninggalkan tanya yang tak terjawab

Bangkai kereta lemparkan amarah

Air mata air mata

Ya Tragedi yang terjadi disekitar daerah Pondok Betung Bintaro Jakarta pada tanggal 19 Oktober 1987 antara KRD 255 jurusan Rangkasbitung – Jakarta Kota dan KRD 220 Tanah abang – Merak. Sekitar 135 meninggal dunia dan 300-an lainnya luka-luka. Sebuah tragedi yang memerahkan tanah jakarta.

Namun jika ditilik dari rentetan peristiwa kecelakaan transportasi di Indonesia ini, jumlah korban yang ada mungkin masih kalah dengan jumlah korban dalam sebuah musibah yang terjadi dari tahun 2000 – 2008, antara lain tenggelamnya sebuah kapal, pesawat yang meledak, dan yang lain. Hanya saja ini SUDAH 13 TAHUN SEJAK TRAGEDI BINTARO!!!!

Dalam 13 Tahun dari 1987 sudah ribuah nyawa menghilang hanya karena kecelakaan transportasi UMUM, bukan PRIBADI. Apa saja yang dilakukan oleh Departemen Perhubungan dalam rentang waktu itu? Apa saja yang dilakukan oleh Pemerintah secara umumnya dalam menangani bobroknya sebuah standar keamanan TRANSPORTASI PUBLIK?? Ataukah memang setiap penumpang dari transportasi publik harus dicekam was-was sepanjang perjalanannya???

Seharusnya bukankah kita sebagai sebuah negara yang terus berkembang, berkaca pada sejarah tragedi bintaro dimana puluhan anak tak lagi memiliki orang tua, puluhan ibu menangisi tubuh kaku suaminya. Ataukah memang hanya belasungkawa yang mampu dilakukan pemerintah?

Ada sebuah peristiwa dimana pemerintah telah menyatakan bahwa semua teah diperiksa dan dilakukan sesuai prosedur. Prosedur apanya? Prosedur Map berisi dokumen dengan lambang kepala negara pertama indonesia dan wakilnya? Atau prosedur wawancara telepon yang menyebutkan deretan angka-angka?

Atau memang benar sudah sesuai dengan prosedur, namun seperti biasa dimana dalam dunia bisnis ”kertas” berbicara, waktu adalah ”kertas”. Namun faktor kesealamatan warga negara sendiri, di tanah air sendiri diabaikan. KNKT itu adalah Komite Nasional Keselamatan Transportasi bukan Kenapa Nasib Kami Tamat. Dimana rasa aman dan nyaman berpergian di tanah air sendiri?

Kita tentu belum lupa dan bahkan masih ingat dengan kecelakaan sebuah pesawat udara di sekitar perairan Sulawesi. Dilanjutkan dengan tergelincirnya pesawat dengan maskapai yang sama, dan akhirnya berujung pada pemeriksaan akibat tekanan publik, dan memang ditemukan jika ada masalah di maskapai tersebut. Apakah memang harus ada tuntutan publik? Ataukah memang sebenarnya sudah sejak dahulu beberapa pesawat di maskapai itu sangat tidak layak untuk mengudara? Apakah ternyata memang “kertas” masih berbicara?

Jika itu mengenai pesawat udara maka lain cerita jika menyoal tentang sebuah Kapal Penyebrangan, yang pastinya mengangkut para penumpang dari satu tempat ke tempat yang lain. Masih ingatkah anda dengan sebuah peristiwa tenggelamnnya sebuah kapal yang penuh sesak penumpang disekitar Laut Utara Jawa? Atau peristiwa kapal yang terbakar dan tenggelam layaknya Titanic?

Seorang dari pemeriksa dipelabuhan pernah bertutur, bahwa semua memang diperiksa sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, dan akan keluar sebuah pernyataan kelaikan kapal tersebut untuk melaut. Jika memang sudah seperti itu kenapa kecelakaan ini bisa terjadi di tahun 2000-an, yang katanya sudah modern, millenium baru…

Apa memang surat kelaikan itu punya “tarif” tersendiri yang akan keluar setelah persyaratan tertentu telah dipenuhi? Kembali, dimana tanggung jawab Pemerintah yang seharusnya melindungi Warga Negara-nya. Atau memang hal-hal seperti, “ketentuan dan syarat berlaku” itu sesuai dengan hukum dan apa yang telah digarisbesarkan oleh pemerintah dalam Peraturannya baik itu Keputusan Menteri maupun Keputusan Presiden.

Setelah 21 Tahun Tragedi Bintaro, akankah terjadi kejadian yang sama yang diakibatkan karena ketidakpedulian Pemerintah akan keselamatan Warga Negaranya???

Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang.

Di sebuah Pesisir, Aroendra.

Posted by: aroe | September 7, 2008

MARHABAN YAA RAMADHAN…

MARHABAN YAA RAMDHAN

Allahumma sholi ‘alaa Muhammad wa ‘alaa alii Muhammad

Akhirnya Datang Juga… (udeh kek acara tipi….)

Bulan yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Bulan di mana semua amal perbuatan manusia akan medapatkan ganjaran berupa pahala yang dilipatgandakan. Bulan dimana umat muslim di seluruh dunia ber-puasa selama 1 bulan penuh dan menambah ibadahnya dimalam hari dengan melaksanakan shalat Tarawih yang juga sebulan penuh.

Eh, tapi ada satu kejadian yang mungkin banyak membuat orang bertanya-tanya. Kenapa sih sebelum puasa pada minta maaf2an? Dari yang via telepon, via eS eM eS, via messenger, via (apa tuh yang baru) plurk, dan sebagainya dan sebagainya. Well, selidik punya selidik (kapan gw nyelidikinnya?) ternyata hal ini katanya didasarkan pada sebuah hadits yang berbunyi:

” Do’a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan “
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
* Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at.

Jadi itulah sebabnya banyak yang bermaaf-maafan. Tapi apakah hadits diatas tadi sahih??? (tanya kenapa….?) Karena periwayat hadits-nya tidak dicantumkan namanya. Hmm.. masih banyak juga keraguan tentang hadits diatas apakah sahih atau tidaknya, atau malah hadits yang sama sekali palsu.

Hmm, ada hadits lain yang berbunyi mengenai perilaku sebelum memasuki Ramadhan dan sahih, diambil dari dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam (ane gak punya bukunye, cuma hasil browsing aje….)

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.

[Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Memang membingungkan, karena banyak orang yang bermaaf-maafan menjelang bulan Ramadhan lalu beralasan karena berdasarkan hadits inilah itulah. Sebenarnya, bermaaf-maafan itu tidak hanya dilakukan ketika menjelang sesuatu yang sakral, seperti bulan ramadhan. Kapanpun kita berbuat salah, baik yang disengaja atau tidak, segeralah untuk bermaaf-maafan. Mengenai perilaku menjelang ramadhan maka bisa diikuti dari hadits dari buku Birrul Waldain yang sudah terbukti ke-sahih-annya.

Intinya, dari itu semua ada pelajaran yang bisa kita petik sehingga menjadikan kita sebagai individu yang lebih baik lagi (Amien), antara lain:
1. Bermaaf-maafan bisa setiap saat tidak terpaku pada suatu momen sakral seperti bulan Ramadhan;
2. Memasuki bulan suci Ramadhan, semoga suasana hati kita menjadi damai dan tenteram, tidak lagi dikotori dengan perasaan-perasaan dari penyakit hati;
3. Perbanyaklah ibadah dan eratkanlah tali silaturahmi.

Amien.
*Nb: Ada yang mau menambahkan?

Posted by: aroe | August 18, 2008

Ini Blog kagak pernah apdet???

Ah entah kenapa, kali ini rasanya sama dengan yang lalu. Rasa enggan dan kemalasan untuk menuangkan pikiran dan melepaskan rasa dalam sebuah kata dengan menekan tuts pada keyboard kembali menyerang. Terlalu banyak tulisan yang tak terpublikasikan. Dan pikiran yang tetap terpendam.

Entah kenapa? Mau bertanya pada rumput yang bergoyang, saya bukan seseorang yang memiliki kata itu dalam lagunya. Rasanya memang seperti inilah saya, konsep hanya dalam otak, menuangkan sedikit dalam tekanan tuts pada keyboard lalu membiarkannya menumpuk dalam sebuah media penyimpanan. Malaskah atau enggankah?

Saya pun tak mengerti. Proyek “in the hunt”  terhenti lebih banyak dari yang bisa saya kerjakan. Kadang suasana awan tak mendukung langkah kaki saya. Dan bahkan terkadang langkah kaki tak didukung oleh waktu yang sempit. Jadi proyek yang terus menerus tertunda. Baru sedikit yang saya dapatkan, padahal sebuah perekam momen terus menerus saya bawa. Ah, terkadang saya sendiri tak dapat memahami apa yang mau saya lakukan.

Semoga saja, tak terhenti selamanya. Hidup terus berputar, pilihan harus ditentukan dan kesempatan sebisa mungkin dimanfaatkan. Semoga….

Posted by: aroe | April 26, 2008

PEMBANGUNAN YANG MERATA ?? Mimpi kali yeee…..

Hmm… akhirnya muncul juga tulisan rada serius dikit

sebenarnya tulisan ini muncul karena pengalaman pribadi yang bisa dibilang sedikit meng-eneg-kan… Tulisan ini mengenai yah dibaca sendiri deh… lol .

Mengenai arus listrik. Yah bisa dibilang tahun ini, negara kita yang bernama Indonesia sudah hampir berumur 63 tahun. Umur yang cukup tua untuk seseorang, yah sebenarnya untuk sebuah negara juga udah bisa dibilang cukup bangkotan. Nah di umur yang udah lewat dari setengah abad ini, seharusnya pembangunan sudah cukup merata, bukan begitu bukan ?

Namun kadang kala kenyataan dan realita berbeda jauh dengan harapan dan tulisan di atas kertas. Itulah yang terjadi di negeri ini. Sudah bangkotan tapi pembangunan masih sentralistik. Padahal udah banyak kucuran dana dan kebijakan-kebijakan yang katanya membangun daerah. Namun sekali lagi, kenyataan dan realita serta fakta di lapangan sungguh jauh berbeda dengan rencana, harapan, dan goresan pena diatas kertas.

Kucuran dana dan kebijakan yang katanya membangun daerah seringkali disalahgunakan. Yah terutama mengenai arus listrik yang katanya masuk desa… (udah kayak ABRI yang katanya mau masuk desa… wakakakak….) tetapi yah itu, mental pejabat yang masih suka korupsi dan ngempanin partai membuat pembangunan itu hanya mengendurkan tali perut mereka-mereka yang sang tuan. Udah tahun 2008 tetep aja masih arus listrik yang katanya dipasok dari PLT-PLT setempat sering hilang dijalan. Arus listrik yang cukup vital untuk masa sekarang ini, untuk menunjang sektor ekonomi dan pendidikan daerah setempat, sering kali terbengkalai.

Yah, pengalaman pribadi penulis, setelah rekor 23 Jam sekian Menit nonstop tanpa arus listrik dalam hidup saya di salah satu kabupaten di sebuah pulau bernama Andalas ini akhirnya pecah. Horeeee…. Rekor pecah.

Yups… rekor pecah menjadi 32 Jam Sekian Menit Nonstop tanpa pasokan arus listrik. Nah lo, apa yang terjadi tuh, 32 jam tanpa listrik ? Yang pasti gelap total… wakakakakak….

Nah otomatis dengan 32 Jam nonstop tanpa arus listrik ini kegiatan kedinasan dan pemerintahan serta arus informasi dan pendidikan sedikit terganggu. Padahal seharusnya paling tidak, sebuah kabupaten memiliki sebuah PLTD atau PLT Lainnya yang bisa mencakupi satu kabupaten itu saja, saat mendadak pasokan listrik dari Ibukota Propinsi itu terputus karena Tiang Listrik yang patah atau semacamnya. Nah berarti selama ini kemana aja tuh kucuran dana yang katanya dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah?? Menguap di tengah jalankah? Atau menguap di kabupaten itu sendiri?

Entahlah, saya sendiri tidak tahu menguap kemana tuh duit. Padahal format Anggaran saat ini yang katanya Anggaran Berbasis Kinerja, yang bahasa kerennya Performance Budgeting System (bweh, lidah gw belibet bacanya) menitik beratkan pada sektor Pembangunan. Namun pembangunan di sektor mana? Disini aja pembangunan sedikit terbengkalai. Padahal jelas Dana yang dikucurkan tidaklah sedikit. Yah klo mau berhitung, coba saja hitung dari sekitar tahun 1960-an berarti udah sekitar 48 Tahun proses pembangunan itu berlangsung. Nah mana hasilnya????

Hasilnya, arus listrik yang masih sangat bergantung pada PLTA di ibukota propinsi. Lalu arus listrik yang terus menerus disko dari rentang 200 volt – 220 volt. Nah begimane nih? Entahlah gimana bisa seperti itu. Seharusnya rentang 48 Tahun pembangunan itu, sudah dapat setidaknya membangun infrastruktur dasar sebuah kabupaten. Seperti pembangunan PLT setempat atau yang lainnya. Tapi yang ada sampai saat ini yang bisa saya lihat Cuma pembangunan infrastruktur dasar yang se-ADA-nya. Sudah saatnya Pemerintah Pusat bertindak dengan mengaudit kucuran dana DAK maupun DAU yang mengalir ke daerah-daerah, karena bila tidak, kapan kita bisa maju?

Setiap kiriman dana, selalu saja menguap gak jelas entah kemana. Pencairan dana yang tiba2 membludak di saat akhir Tahun Anggaran. Seharusnya menjadi tanda tanya bagi Pemerintah Pusat. Tanya Mengapa???? Sudah saatnya bangsa ini berubah, jangan selalu memikirkan tali perut atau mengisi ADART partai-partai…. Pikirkan juga nasib rakyat yang terus menerus menjadi orang bodoh atau pelanduk diantara para Gajah yang bertarung…

NGEPET!!!!!! KAMPREEETTTTTTTT!!!!!!!!!!!!! KAPAN NIH LAMPU NYALA!!!!!!!!!!!

Maaf Misuh……

Posted by: aroe | April 20, 2008

HIDUP ITU SINGKAT

Yah, Hidup Itu Singkat. Judul dari blog ini yang telah lama saya tinggalkan dan belum pernah saya isi (gak bisa nulis sih…). Kenapa memilih judul itu mas ? (tanya seorang wartawan alias kuli tinta dari sebuah harian yang tidak sangat terkenal di ibukota sebuah negara yang ber ada di negeri antah berantah). Ya akan saya jelaskan, jadi begini ceritanya… (halah makin aneh..)

Hidup itu singkat, yah memang begitulah hidup ini, singkat. Sesingkat tetesan rinai rintik hujan yang jatuh membasahi bumi yang kering, lalu menguap dan menghilang. Kadang kita berpikir rasanya baru kemaren saya masuk ke sekolah itu ternyata sekarang sudah kuliah. Rasanya belum lama saya di Perguruan Tinggi ini, sekarang sudah lulus. Yah begitulah penggambaran hidup, singkat. Lahir, Tumbuh dan Berkembang (Hidup), lalu Mati, singkat bukan ? Mengutip sebuah lirik lagu yang make bahasa keju sono…

“They say Life is too short
The here and the now
And you’re only given one shot
Could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we’ve got?”

- Spirits Carries On by Dream Theater -

Yah, begitulah hidup. Singkat dan kita hanya diberi satu kesempatan. Tidak ada “continue” tidak ada “save and load” tidak ada “remaining lives” tidak ada “pause”. Satu kesempatan, satu peluru. Bidik yang tepat, arahkan ketempat yang akan kamu tuju, lalu lepaskan peluru itu dari selongsongnya. Meleset atau Tepat Sasaran, itu tergantung bagaimana kita membidiknya. Itulah sedikit penggambaran bagaimana singkatnya hidup ini.

Posted by: aroe | April 20, 2008

WHO AM I ?

Siapakah saya ?

Sekelumit cerita mengenai saya. Biography ? Entahlah nampaknya bukan. Ini hanya sekedar sebuah cerita singkat mengenai siapa saya. Saya bernama yah panggil saja Aroe, singkat, padat, gak jelas. Hmm…. klo mau yang rada panjang, kita pakai nama kombinasi yang dulu katanya mau digunakan ke saya, halah, makin gak jelas. Klo mau yang panjangnya sebut saja S.S. Atma Wijaya. Eiitss… itu bukan nama aseli loh, cuma nama main-main, huehuehuehuhehehehe…… Nama aseli dirahasiakan…..

Aku dilahirkan di kota, di bangsal rumah sakit tua
(Gombloh – Selamat Pagi Kotaku)

Bukan dink.. Aku lahir disebuah propinsi yang gak punya kota lain selain ibukota propinsi yang ternyata juga menjadi ibukota dari sebuah negara bernama NKRI. Lahir di sebuah Rumah Sakit Swasta di kawasan Jakarta Timur, tepatnya di daerah Cililitan yang sekarang makin macet (sejak kapan jakarta gak makin macet sih ?)

Pada tanggal sekian, tahun sekian, bulan Juni. Lahir dari rahim seorang ibu yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil, yang dibuahi oleh seorang Ayah yang juga berstatus sebagai kepala keluarga, eh Pegawai Negeri Sipil juga. Kelahiranku tanpa di temani Ayahku yang sibuk mencari dana untuk membuat dapur tetap ngebul dan anaknya ini mendapat asupan gizi yang cukup. Terima kasih untuk kedua orang tuaku yang telah merawatku hingga kini. Entah dengan cara apa ku membalasnya, aku tak mengerti. Apapun yang kulakukan tak kan mungkin mampu membalas jasa-jasa yang telah kalian berikan, yang kupahami dan kusadari adalah aku ingin kalian berdua bahagia.

Lahir dengan jenis kelamin (bentar, lirik kebawah dulu, benerin orbit, wekekekekeke….) Laki-Laki, buat yang gak ngerti Laki-Laki, nama lainnya Pria Punya Selera, masih gak ngerti juga, bahasa JERMAN-nya Cah Lanang, bahasa keju-nya apa tuh yang suka dibawain ama pembawa acara tinju-tinju… oh iye Gentleman.. wakakakakakak…. dengan panjang saat ini (nah lo pada mikir kemane lo ???) kurang lebih 174-an centimeter, gw kagak pernah ngukur tinggi badan, itu cuma yang tertera di SIM (Surat Ijin Mengemudi) dengan lambang C besar di pojok kanan (kenape juga sukanya mojok-mojok ??)

Tumbuh dan menjalani kehidupan bangku TK (Taman Kanak-Kanak) didaerah yang bernama Cililitan, sebelum akhirnya pindah, mojok di perbatasan Jakarta Timur (tuh kan mojok lagi), dimana klo nyebrang kali udah masuk Jawa Barat. Nama daerahnya, wah kagak terkenal, kagak usah disebut yak… wekekekekek….

Terus masuk Putih Merah (SD – Sekolah Dasar), Putih Biru (SMP - Setia Menemani Pacar, eh salah, Setelah Makan Pulang, eh salah juga, Sekolah Menengah Pertama) masih didaerah sekitar situ juga. Terus akhirnya terdampar di Komplek Kopassus masuk ke sekolahan yang udah pake celana panjang dan ceweknya pake rok pendek 15 centi diatas lutut… (boong dinks) celananya panjangnya warna abu-abu dan muridnya isinya beragam, dari yang botak ampe yang gondrong, dari yang rata ampe yang wah (nge-jendol)…. wakakakakakak….. dari yang bawa tembako sampe yang bawa rumput juga ada…. huehuehuehuehehehehehe…….

Lanjut ke mana enaknya yah…. ah terdampar di Diploma, terus S-1, terus S-2, terus S-3, terus S-4, terus ke F-3000 Asia, jadi rookie di F-1, terus bosen masuk ke F-14, pindah ke F-16, masuk lagi ke F-18/A, terus ke F-22, lanjut naek T-15, pindah jurusan ke 510, naek lagi S-10 masih nymabung lagi neh 613, nah nyampe dah. Eh masih lanjut… diulang, naik T-15 naek lagi T-02, terus nyambung M-06 / M-16, nyambung lagi P-02, nyambung lagi roda tiga, dimana cuma Tuhan yang tahu tuh ban 3 biji bakalan kemana, supirnya aje gak tahu. Apaan sih nih…..

Yah mungkin cuma itu aja deh yang bisa gw sampaikan ke para pembaca semuanya.. (kayak ada yang baca aja… bwahahahahahaha….)

- Salam Kenal -

Categories